5 Tanda Kamu Kesepian Kronis

5 Tanda Kamu Kesepian Kronis.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

mandi junub

Disalin dari:
http://alghuroba.org/junub.php
http://samuderailmu.wordpress.com/2008/03/11/cara-mandi-junub-yang-benar/

Cara Mandi Junub Yang Benar

Mandi junub itu ialah mandi yang diwajibkan oleh agama Islam atas orang-orang mukallaf1 dari kalangan pria maupun wanita untuk membersihkan diri dari hadats besar2. Dan menurut aturan Syari’at Islamiyah, mandi junub itu dinamakan mandi wajib dengan mengalirkan air ke seluruh bagian tubuh3. Mandi junub ini adalah termasuk dari perkara syarat sahnya shalat kita, sehingga bila kita tidak mengerjakannya dengan cara yang benar maka mandi junub kita itu tidak dianggap sah sehingga kita masih belum lepas dari hadats besar. Akibatnya shalat kita dianggap tidak sah bila kita menunaikannya dalam keadaan belum bersih dari hadats besar dan kecil. Sedangkan mandi junub yang benar itu ialah mandi junub yang dilakukan dengan mengamalkan cara-cara mandi junub yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam.

Beberapa keadaan yang diwajibkan untuk mandi junub :

Ada beberapa keadaan yang menyebabkan dia dianggap dalam keadaan berhadats besar sehingga diwajibkan dia untuk melepaskan diri darinya dengan mandi junub. Beberapa keadaan itu adalah sebagai berikut :

1. Keluarnya mani, apakah karena syahwat atau karena sebab yang lainnya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam dalam sabda beliau sebagai berikut :

Dari Abi Sa’id Al Khudri dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Hanyalah air itu (yakni mandi) adalah karena air pula (yakni karena keluar air mani”. (HR. Muslim dalam Shahihnya).
Dalam menerangkan hadits ini Al Imam Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf An Nawawi menyatakan: “Dan Maknanya ialah: Tidak wajib mandi dengan air, kecuali bila telah keluarnya air yang kental, yaitu mani4”.

2. Berhubungan seks, baik keluar mani atau tidak keluar mani. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam dalam sabdanya sebagai berikut :

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Apabila seorang pria telah menindih diantara empat bagian tubuh perempuan (yakni berhubungan seks) kemudian dia bersungguh-sungguh padanya (yakni memasukkan kemaluannya pada kemaluan perempuan itu), maka sungguh dia telah wajib mandi karenanya”. (HR. Bukhari dalam Shahihnya)

3. Berhentinya haid dan nifas (Masalah ini akan dibahas insya Allah dalam menu Muslimah).

4. Mati dalam keadaan Muslim, maka yang hidup wajib memandikannya. (Masalah ini akan dibahas insya Allah dalam topik pembahasan “Cara Memandikan Jenazah”).

Cara menunaikan mandi junub :

Karena menunaikan mandi junub itu adalah termasuk ibadah kepada Allah Ta’ala, maka disamping harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata, juga harus pula dilaksanakan dengan cara dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam. Dalam hal ini terdapat beberapa riwayat yang memberitakan beberapa cara mandi junub tersebut. Riwayat-riwayat itu adalah sebagai berikut :

1. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam telah bersabda : Barangsiapa yang meninggalkan bagian tubuh yang harus dialiri air dalam mandi janabat walaupun satu rambut tidak dibasuh dengan air mandi itu, maka akan diperlakukan kepadanya demikian dan demikian dari api neraka”. (HR. Abu Dawud dalam Sunannya hadits ke 249 dan Ibnu Majah dalam Sunannya hadits ke 599. Dan Ibnu Hajar Al Asqalani menshahihkan hadits ini dalam Talkhishul Habir jilid 1 halaman 249)

Dengan demikian kita harus meratakan air ketika mandi janabat ke seluruh tubuh dengan penuh kehati-hatian sehingga dilakukan penyiraman air ketubuh kita itu berkalai-kali dan rata.

2. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha beliau menyatakan: Kebiasaannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam apabila mandi junub, beliau memulai dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian beliau berwudhu’ seperti wudhu’ beliau untuk shalat, kemudian beliau memasukkan jari-jemari beliau kedalam air, sehingga beliau menyilang-nyilang dengan jari-jemari itu rambut beliau, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh tubuh beliau”. (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya hadits nomer 248 (Fathul Bari) dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 316. Dalam riwayat Muslim ada tambahan lafadz berbunyi demikian : “Kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh tubuhnya, kemudian mencuci kedua telapak kakinya”).

Jadi dalam mandi junubnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam, beliau memasukkan air ke sela-sela rambut beliau dengan jari-jemari beliau. Ini adalah untuk memastikan ratanya air mandi junub itu sampai ke kulit yang ada di balik rambut yang tumbuh di atasnya. Sehingga air mandi junub itu benar-benar mengalir ke seluruh kulit tubuh.

3. Maimunah Ummul Mu’minin menceritakan: Aku dekatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam air mandi beliau untuk janabat. Maka beliau mencuci kedua telapak tangan beliau dua kali atau tiga kali, kemudian beliau memasukkan kedua tangan beliau ke dalam bejana air itu, kemudian beliau mengambil air dari padanya dengan kedua telapak tangan itu untuk kemaluannya dan beliau mencucinya dengan telapak tangan kiri beliau, kemudian setelah itu beliau memukulkan telapak tangan beliau yang kiri itu ke lantai dan menggosoknya dengan lantai itu dengan sekeras-kerasnya. Kemudian setelah itu beliau berwudhu’ dengan cara wudhu’ yang dilakukan untuk shalat. Setelah itu beliau menuangkan air ke atas kepalanya tiga kali tuangan dengan sepenuh telapak tangannya. Kemudian beliau membasuh seluruh bagian tubuhnya. Kemudian beliau bergeser dari tempatnya sehingga beliau mencuci kedua telapak kakinya, kemudian aku bawakan kepada beliau kain handuk, namun beliau menolaknya”. (HR. Muslim dalam Shahihnya hadits ke 317 dari Ibnu Abbas).

Dari hadits ini, menunjukkan bahwa setelah membasuh kedua telapak tangan sebagai permulaan amalan mandi junub, maka membasuh kemaluan sampai bersih dengan telapak tangan sebelah kiri dan setelah itu telapak tangan kiri itu digosokkan ke lantai dan baru mulai berwudhu’. Juga dalam riwayat ini ditunjukkan bahwa setelah mandi junub itu, sunnahnya tidak mengeringkan badan dengan kain handuk.

4. Dari Maimun (istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam), beliau memberitakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam ketika mandi janabat, beliau mencuci kemaluannya dengan tangannya, kemudian tangannya itu digosokkan ke tembok, kemudian setelah itu beliau mencuci tangannya itu, kemudian beliau berwudhu’ seperti cara wudhu’ beliau untuk shalat. Maka ketika beliau telah selesai dari mandinya, beliau membasuh kedua telapak kakinya”. (HR. Bukhari dalam Shahihnya, hadits ke 260).

Dari hadits ini, menunjukkan bahwa menggosokkan telapak tangan kiri setelah mencuci kemaluan dengannya, bisa juga menggosokkannya ke tembok dan tidak harus ke lantai. Juga dalam hadits ini diterangkan bahwa setelah menggosokkan tangan ke tembok itu, tangan tersebut dicuci, baru kemudian berwudhu’.

Penutup & Kesimpulan :

Dari berbagai riwayat tersebut di atas kita dapat simpulkan, bahwa cara mandi junub itu adalah sebagai berikut :

Mandi junub harus diniatkan ikhlas semata karena Allah Ta’ala dalam rangka menta’atiNya dan beribadah kepadaNya semata.
Dalam mandi junub, harus dipastikan bahwa air telah mengenai seluruh tubuh sampaipun kulit yang ada di balik rambut yang tumbuh di manapun di seluruh tubuh kita. Karena itu siraman air itu harus pula dibantu dingan jari-jemari tangan yang mengantarkan air itu ke bagian tubuh yang paling tersembunyi sekalipun.
Mandi junub dimulai dengan membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan tangan, masing-masing tiga kali dan cara membasuhnya dengan mengguyur kedua telapak tangan itu dengan air yang diambil dengan gayung. Dan bukannya dengan mencelupkan kedua telapak tangan itu ke bak air.
Setelah itu mengambil air dengan telapak tangan untuk mencuci kemaluan dengan telapak tangan kiri sehingga bersih.
Kemudian telapak tangan kiri itu digosokkan ke lantai atau ke tembok sebanyak tiga kali. Dan setelah itu dibasuh dengan air.
Setelah itu berwudhu’ sebagaimana cara berwudhu’ untuk shalat.
Kemudian mengguyurkan air dari kepala ke seluruh tubuh dan menyilang-nyilangkan air dengan jari-jemari ke sela-sela rambut kepala dan rambut jenggot dan kumis serta rambut mana saja di tubuh kita sehingga air itu rata mengenai seluruh tubuh.
Kemudian bila diyakini bahwa air telah mengenai seluruh tubuh, maka mandi itu diakhiri dengan membasuh kedua telapak kaki sampai mata kaki.
Disunnahkan untuk tidak mengeringkan badan dengan kain handuk atau kain apa saja untuk mengeringkan badan itu.
Disunnahkan untuk melaksanakan mandi junub itu dengan tertib seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam.
Demikianlah cara mandi junub yang benar sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam dan juga telah dicontohkan oleh beliau. Semoga dengan kita menunaikan ilmu ini, amalan ibadah shalat kita akan diterima oleh Allah Ta’aala karena kita telah suci dari junub atau hadats besar. Amin Ya Mujibas sa’ilin.
1. Tentang pengertian orang yang mukallaf, artinya orang yang telah baligh dari sisi usianya dan telah mumayyiz dari sisi kemampuan berfikirnya. Mumayyiz itu sendiri artinya ialah kemampuan membedakan mana yang bermanfaat baginya dan mana pula yang bermudarat.

2. Tentang pengertian hadatas besar, telah diterangkan dalam artikel “Apa & Bagaimana Thaharah ?”

3. Ar Raudhatun Nadiyah, Al Allamah Shiddiq Hasan Khan, hal. 35.

4. Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf An Nawawi, jilid 2 hal. 153, Darul Fikr Beirut Libanon, cet. Th. 1417 H / 1996 M.

.

niat mandi junub adalah sebagai berikut: Nawaitu ghuslal li rof’il hadatsil akbari minal janabati ‘an jami’il badani fardhan lillahi ta’ala.” Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari semua badan setelah junub, yang merupakan kewajiban hanya karena Allah semata”.

Al Ustadz Ja’far Umar Thalib

51 Tanggapan – tanggapan ke “Cara Mandi Junub Yang Benar”
sheila Says:
September 12, 2008 pukul 4:05 am
Terima Kasih,
saya mengakui awam terhadap agama.dengan adanya penjelasan mandi junub saya menjadi tau,ooo gitu tho….berarti selama ni mandi junub yang saya lakukan tidak benar.
1. Menurut bapak gimana?cara mandi sayakan salah…..tp dalam niat sudah ada…,apakah sholat dll saya diterima Allah
2. Trus menurut teman2 saya mandi kramas…menggunakan sampo apakah itu benar

Balas
Abu Fairuz Says:
Mei 20, 2009 pukul 5:50 am
1)Memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak kaum muslimin yang masih tidak mengetahui cara mandi janabah yang benar sesuai tuntunan nabi sehingga terjerumus dalam kesalahan dalam pelaksanaannya. klo kesalahan itu dilakukan karena ketidaktahuan, Insya Allah Allah akan memaafkannya karena Allah memaafkan hamba-Nya yang lupa dan tak tahu. . Namun janganlah kita selalu melegitimasi kesalahan dalam beribadah dengan alasan “tak tahu” karena Islam selalu menyuruh ummatnya untuk senantiasa menuntut ilmu agar dapat menghilangkan kebodohan/kejahilan.Wallahu a’lam
2)Mandi janabah dengan menggunakan sampo dengan tujuan keramas tidaklah merupakan satu kemestian.Yang terpenting adalah bagaimana air bisa mengenai seluruh bagian rambut dan kulit kepala .Bahkan bagi wanita tidak diwajibkan untuk membuka gelungan rambut ketika mandi janabah. Dalilnya adalah : Ummu Salamah pernah bertanya kepada Rasulullah -shalllallahu alaihi wasallam-, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah wanita yang mempunyai guungan rambut yang tebal, apakah saya harus membukanya saat mandi junub?” beliau menjawab, “Tidak perlu, yang wajib atas kamu hanyalah menuangkan air di atas kepalamu sebanyak tiga kali tuangan kemudian kamu menuangkan air ke seluruh tubuhmu. Maka dengan itu kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 742 dan selainnya).Wallahu a’lam

Balas
andry Says:
Januari 2, 2009 pukul 2:14 pm
assalamu’alaikum.. Wr. Wb.
Ma’af, kalau saya baca dalam kutipan diatas, sepertinya saya tidak menemukan adanya keharusan (wajib) niat terlebih dahulu sebelum melaksanakan mandi junub. setahu saya niat dalam mandi junub hukumnya wajib..
mohon penjelasan dari sohib..
sebelumnya mohon ma’af, terima kasih..
wassalam..

Balas
Abu Fairuz Says:
Mei 20, 2009 pukul 5:55 am
Memang betul yang saudara katakan.Niat adalah syarat sahnya seluruh ibadah, Semua ibadah mewajibkan adanya niat sebagaimana dalam hadits Umar bin Al-Khaththab yang masyhur, “Sesungguhnya setiap amalan -syah atau tidaknya- tergantung dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1 dan 54 dan Muslim no. 1907) Namun yang perlu diingat bahwa niat tempatnya di dalam hati dan tidak perlu dilafadzkan sebab hal ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah.

Balas
ryan Says:
Januari 8, 2009 pukul 6:18 pm
assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuh,,
saya masih bingung apa bedanya antara mandi junub dengan mandi wajib?
ada yang mengatakan tidak ada bedanya, karena kata mandi junub hanya istilah dari mandi wajib,,
akan tetapi, ketika saya belajar di sebuah pesantren kilat, seorang guru di sana mengatakan orang yang berhenti haid mandinya bukanlah mandi junub namanya, tetapi mandi wajib,,
mohon penjelaannya pak!
teimakasih,,

Balas
sirbram Says:
Januari 10, 2009 pukul 4:43 am
Mandi Junub dg mandi wajib itu sama secara istilah. Wallahu a`lam.

Balas
sarahtidaksendiri Says:
Februari 12, 2009 pukul 5:46 pm
terima ksh ata sinfonya.. aQ smepet bingung cr mandi junub yg benar, abis versinya terlalu banyak..

Balas
anak nongkrong tu2g Says:
April 14, 2009 pukul 4:35 am
apakah boleh sehabis mandi junub, wudhu lagi

Balas
AkoL Says:
Mei 15, 2009 pukul 1:10 pm
menurut sepengetahuan saya, setelah mandi junub, jika ingin menunaikan ibadah sholat, diharuskan berwudhu lagi, meskipun waktu mandi junub itu kita sudah berwudhu.

Balas
Abu Fairuz Says:
Mei 20, 2009 pukul 5:32 am
Kaifiat Mandi Junub
Para ulama menyebutkan bahwa kaifiat mandi junub ada 2 cara:
1. Cara yang sempurna, yaitu mengerjakan semua rukun, wajib dan sunnah dalam mandi junub.
2. Cara yang mujzi’ (yang mencukupi), yaitu hanya melakukan yang merupakan rukun dalam mandi junub.
(Lihat Al-Mughni: 1/287, Al-Majmu’: 2/209 dan Al-Muhalla: 2/28)
Kaifiat mandi yang mujzi’:
1. Niat.
2. Mencuci dari kotoran yang menimpa atau najis –kalau ada-.
3. Menyiram kepala sampai ke dasar rambut dan seluruh anggota badan dengan air.
Ada beberapa dalil yang menunjukkan cara ini, diantaranya:
1. Firman Allah Ta’ala, “Dan kalau kalian junub maka bersucilah.” (QS. Al-Maidah: 6)
Imam Ibnu Hazm berkata dalam Al-Muhalla (2/28), “Bagaimanapun caranya dia bersuci (mandi) maka dia telah menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan padanya.”
2. Ummu Salamah pernah bertanya kepada Rasulullah -shalllallahu alaihi wasallam-, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah wanita yang mempunyai guungan rambut yang tebal, apakah saya harus membukanya saat mandi junub?” beliau menjawab, “Tidak perlu, yang wajib atas kamu hanyalah menuangkan air di atas kepalamu sebanyak tiga kali tuangan kemudian kamu menuangkan air ke seluruh tubuhmu. Maka dengan itu kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 742 dan selainnya)
3. Hadits Imran bin Hushain yang panjang dalam Ash-Shahihain, dia berkata, “Dan yang terakhir adalah diberikannya satu bejana air kepada yang orang yang terkena janabah lalu beliau (Nabi) bersabda: Pergilah dan tuangkan air itu ke seluruh tubuhmu.”.(Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/424).
Kami katakan: Bagi mereka yang kekurangan air atau yang tidak punya banyak waktu untuk mandi -karena harus segera shalat atau selainnya-, maka hendaknya mereka cukup mengerjakan kaifiat ini karena ini adalah ukuran minimal syahnya mandi.
Kaifiat mandi sempurna:
Sifat mandi yang sempurna ada dua cara, disebutkan dalam hadits Aisyah dan Maimunah yang keduanya diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Berikut penyebutannya:
A. Cara mandi junub yang pertama:
Aisyah berkata, “Sesungguhnya kebiasaan Nabi -shallallahu alaihi wasallam- kalau beliau mandi junub adalah: Beliau mulai dengan mencuci kedua (telapak) tangannya, kemudian beliau berwudhu (sempurna) seperti wudhu beliau kalau mau shalat. Kemudian beliau mengambil air lalu memasukkan jari-jemarinya ke dasar-dasar rambutnya, sampai tatkala beliau merasa air sudah membasahi semua bagian kulit kepalanya, beliau menyiram kepalanya dengan air sebanyak tiga kali tuangan, kemudian beliau menyiram seluruh bagian tubuh yang lainnya..” (HR. Al-Bukhari no. 248, 272 dan Muslim no. 316)
Kesimpulan cara yang pertama adalah:
1. Mencuci kedua telapak tangan tanpa ada pembatasan jumlah.
2. Berwudhu sempurna, dari mencuci telapak tangan sampai mencuci kaki. Jadi telapak tangannya kembali dicuci, berdasarkan lahiriah hadits.
3. Setelah berwudhu sempurna, beliau mengambil air dengan kedua telapak tangan beliau lalu menyiramkannya ke kepala seraya memasukkan jari jemari beliau ke bagian dalam rambut agar seluruh bagian rambut dan kulit kepala terkena air.
4. Setelah yakin seluruh bagian kulit kepala telah terkena air, beliau menuangkan air ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan.
5. Kemudian yang terakhir beliau menyiram seluruh tubuhnya yang belum terkena air.
B. Cara mandi junub yang kedua:
Ini disebutkan dalam hadits Maimunah, istri Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 259, 265, 266, 274, 276, 281 dan berikut lafazh gabungan seluruh riwayatnya:
Maimunah berkata, “Saya meletakkan air yang akan digunakan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- untuk mandi lalu menghijabi beliau dengan kain. Maka beliau menuangkan air ke kedua (telapak) tangannya lalu mencuci keduanya sebanyak dua kali atau tiga kali, kemudian beliau menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya lalu mencuci kemaluannya dan bagian yang terkena kotoran, kemudian beliau menggosokkan tangannya ke lantai atau ke dinding sebanyak dua kali atau tiga kali. Kemudian beliau berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung, kemudian beliau mencuci wajahnya dan kedua lengannya (tangannya sampai siku), kemudian beliau menyiram kepalanya sebanyak tiga kali kemudian menuangkan air ke seluruh tubuhnya. Kemudian beliau bergeser dari tempatnya lalu mencuci kedua kakinya.” Maimunah berkata, “Lalu saya membawakan sepotong kain kepada beliau (sebagai handuk) tapi beliau tidak menghendakinya lalu beliau mengusap air dari badannya dengan tangannya.” (Diriwayatkan juga yang semisalnya oleh Muslim no. 723)
Kesimpulan cara yang kedua:
1. Menuangkan air ke kedua telapak tangannya lalu mencuci keduanya sebanyak dua atau tiga kali.
2. Mengambil air dengan tangan kanannya lalu menuangkannya ke tangan kirinya, lalu beliau mencuci kemaluannya dengan tangan kirinya dan juga mencuci bagian tubuh yang terkena kotoran (madzi atau mani).
3. Menggosokkan tangan kirinya itu ke lantai atau dinding atau tanah untuk membersihkannya, sebanyak dua atau tiga kali.
4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya.
5. Mencuci wajah lalu mencuci kedua tangan sampai ke siku.
6. Lalu menyiram kepala sebanyak tiga kali siraman.
7. Menyiram seluruh bagian tubuh yang belum terkena air.
8. Bergeser dari tempatnya berdiri lalu mencuci kedua kaki.
Inilah dua kaifiat mandi junub sempurna yang setiap muslim hendaknya mengerjakan keduanya secara bergantian pada waktu yang berbeda, terkadang mandi junub dengan kaifiat Aisyah dan pada kesempatan lain dengan kaifiat Maimunah, wallahu a’lam.
Berikut beberapa permasalahan dalam mandi junub yang tidak tersebut pada kedua hadits di atas:
1. Wajibnya niat dan tempatnya didalam hati.
Karena niat adalah syarat sahnya seluruh ibadah, sebagaimana dalam hadits Umar bin Al-Khaththab yang masyhur, “Sesungguhnya setiap amalan -syah atau tidaknya- tergantung dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1 dan 54 dan Muslim no. 1907)
2. Hukum membaca basmalah.
Tidak disebutkan dalam satu nash pun adanya bacaan basamalah dalam mandi junub, karenanya kami berpendapat tidak adanya bacaan basmalah di awal mandi junub. Kecuali kalau dia membaca bismillah untuk gerakan wudhu yang ada di tengah-tengah kaifiat mandi, maka itu kembalinya kepada hukum membaca basmalah di awal wudhu. Dan telah kami bahas pada beberapa edisi yang telah berlalu bahwa hukumnya adalah sunnah.
3. Diharamkan seorang yang mandi junub untuk menceburkan dirinya ke dalam air yang diam seperti kolam dan sejenisnya. Berdasarkan hadits Abu Hurairah secara marfu, “Janganlah salah seorang di antara kalian mandi di dalam air yang diam sementara dia junub.” (HR. Muslim no. 283)
4. Disunnahkan untuk memulai dengan anggota tubuh bagian kanan. Aisyah berkata, “Kami (istri-istri Nabi) jika salah seorang di antara kami junub, maka dia mengambil air dengan kedua tangannya lalu meletakkannya di atas kepalanya. Salah satu tangannya menuangkan air ke bagian kepalanya yang kanan dan tangannya yang lainnya di atas bagian kepalanya yang kiri. Dia melakukan itu sebanyak tiga kali.” (HR. Al-Bukhari no. 277)
5. Bagi yang mengikat rambutnya, apakah dia wajib melepaskan ikatannya?
Imam Al-Baghawi berkata -tentang hadits Ummu Salamah yang telah berlalu di awal pembahasan- dalam kitab Syarh Sunnah (2/18), “Hadits inilah yang diamalkan di kalangan semua ahli ilmi, bahwasanya membuka kepang rambut tidak wajib pada mandi junub selama air bisa masuk ke dasar rambutnya.”
Kami katakan: Kalau tidak bisa masuk maka wajib membukan ikatan rambutnya.
6. Bolehkah memakai handuk setelah mandi junub?
Wallahu a’lam, lahiriah hadits Maimunah di atas dimana Nabi -shallallahu alaihi wasallam- menolak handuk yang diberikan oleh Maimunah, menunjukkan disunnahkannya untuk tidak membasuh badan dengan kain akan tetapi dengan tangan. Walaupun hukum asalnya adalah boleh membasuh tubuh dengan kain setelah mandi, hanya saja yang kita bicarakan adalah mana yang lebih utama.
7. Setelah mandi junub, seseorang boleh langsung shalat tanpa berwudhu kembali karena mandi junub sudah mencukupi dari wudhu. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah, “Adalah Nabi -shallallahu alaihi wasallam- tidak berwudhu lagi setelah mandi.” (HR. Abu Daud no. 172)
Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughny 1/289, “Mandi (junub) dijadikan sebagai akhir dari larangan untuk shalat, karenanya jika dia telah mandi, maka wajib untuk tidak terlarang dari sholat. Sesungguhnya keduanya yaitu mandi dan wudhu, dua ibadah yang sejenis, maka yang kecil di antara keduanya (wudhu) masuk (terwakili) ke dalam yang besar sebagaiamana halnya umrah di dalam haji.”
8. Tidak boleh menggabungkan antara mandi junub dengan mandi haid, karena kedua jenis mandi ini telah tegak dalil yang menerangkan wajibnya untuk mengerjakan masing-masing darinya secara tersendiri, karenanya tidak boleh disatukan pada satu mandi. Lihat pembasan masalah ini dalam Tamamul Minnah hal. 126, Al-Muhalla (2/42-47)
Adapun mandi junub dengan mandi jumat, maka boleh digabungkan. Berdasarkan hadits Aisyah secara marfu’, “Barangsiapa yang mandi pada hari jumat maka hendaknya dia mandi dengan cara mandi junub.” (HR. Ahmad)
Para ulama menerangkan bahwa pengamalan hadits di atas bisa dengan dua cara:
a. Apakah dia sengaja membuat dirinya junub yaitu dengan berhubungan dengan istrinya pada hari jumat, agar dia bisa mandi junub pada hari itu.
b. Ataukah dia mandi jumat dengan kaifiat mandi junub, walaupun dia tidak dalam keadaan junub, wallahu a’lam.
9. Dimakruhkan untuk berlebih-lebihan (boros) dalam menggunakan air, baik dalam wudhu maupun dalam mandi junub. Ini berdasarkan dalil umum yang melarang untuk tabdzir (boros) dan berlebih-lebihan dalam segala sesuatu.
10. Cara mandi bersih dari haid/nifas sama dengan mandi junub kecuali dalam dua hal:
a. Disunnahkan setelah mandi untuk menggosok kemaluan dan yang bagian terkena darah dengan kapas atau yang semacamnya yang telah diolesi dengan minyak wangi. Ini untuk membersihkan dan mensucikan dari bau yang kurang sedap.
Hal ini berdasarkan hadits Aisyah secara marfu’, “Salah seorang di antara kalian (wanita haid) mengambil air yang dicampur dengan daun bidara lalu dia bersuci dan memperbaiki bersucinya. Kemudian dia menuangkan air di atas kepalanya seraya menggosoknya dengan gosokan yang kuat sampai air masuk ke akar-akar rambutnya, kemudian dia menyiram seluruh tubuhnya dengan air. Kemudian dia mengambil secarik kain yang telah dibaluri dengan minyak misk lalu dia berbersih darinya.” Aisyah berkata, “Dia mengoleskannya ke bekas-bekas darah.” (HR. Muslim no. 332 dari Aisyah)
b. Disunnahkan mandi dengan air dan daun bidara sebagaimana dalam hadits di atas.

sirbram Says:
Mei 20, 2009 pukul 6:42 am
@ Abu fairuz
Jazakumullah atas waktu dan ilmu yang antum share kesini. Barakallahu fiika

Balas
DIGEDIGIDENGK Says:
Mei 27, 2009 pukul 10:12 am
saya pernah dengar begini. semisal saya mandi junub dengan seember air, saat saya sedang mandi junub,air yang di ember(yang kita gunakan utk mandi junub)tidak boleh kecipratan dengan air yang telah kita guyur ke badan kita
adakah dalilnya?

Balas
rien Says:
Mei 28, 2009 pukul 2:13 am
Assalamualaikum….
makasih buat informasinya,..saya jadi lebih paham,..
tapi masih ada satu pertanyaan, yaitu jika saya dan suami melakukan prolog jima (ciuman, rabaan sampai oral seks) sampai terangsang, namun suami tidak penetrasi dan tidak keluar mani (sedangkan saya basah), apakah kami wajib mandi junub???
mohon penjelasannya, karena saya bimbang…
terima kasih

Balas
sirbram Says:
Mei 28, 2009 pukul 7:29 am
Tidak wajib mandi. karena yang menyebabkan wajib mandi antara lain adalah ketika “timba masuk sumur” walaupun tidak keluar mani, kemudian ketika keluar mani karena jima` ataupun mimpi. Wallahu a`lam

Balas
al fakir ilmu Says:
Juni 5, 2009 pukul 10:17 am
Assalamualaikum…
tanya Ustadz…..
saya biasanya mandi wajib seperti ini
1. niat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar.
2. mandi seperti mandi biasanya, menuangkan air ke kepala sampai tiga kali,meratakan air hingga keseluruh tubuh, pake sabun, trus selesai.
pertanyaannya Ustadz sah/benarkah cara mandi wajib yang saya lakukan ini…. mohon di balas di email saya….
terima kasih atas jawabannya….

Balas
alfakir ilmu Says:
Juni 7, 2009 pukul 2:01 pm
Assalamualaikum ustadz. semoga ustadz selalu berada dalam lindungan Allah SWT.amien.begini ustadz jika saya mndi wajib, prosesnya seperti ini:
1. saya berniat mandi wajib.
2.air kemudian saya tuangkan diatas kepala sampai dengan keseluru tubuh hingga sampai merata/terkena air semuanya.
3.kemudian saya memakai sabun, dgn kata lain menyabuni badan layaknya orang yang mandi biasa.
4.lalu saya bilas lg dengan air untuk menghilangkan sabun td seperti orang yang mandi biasa juga.
terkadang saya mandi tanpa menggunakan busana sama sekali dengan asumsi agar dapat yakin supaya air dapat mengena keseluruh tubuh.
pertanyaannya adalah sahkah/benarkah secara syar’i cara mandi wajib saya ustadz?
syukron katsir sebelum dan sesudahnya.

Balas
Zico Alviandri Says:
Agustus 21, 2009 pukul 3:17 am
IMHO, itu termasuk mandi mujzi’. Sudah diposting oleh Abu Fairuz

Balas
beby mulia Says:
Agustus 17, 2009 pukul 6:39 am
Assalamu’alaikum.Wr.Wb,
Saya pernah mengalami hal : setelah saya selesai haidh, belum mandi junub, tapi saya sudah berhubungan suami istri, apa saya harus mandi junub 2 kali, untuk yang haidh dan yang habis berhubungan, mohon penjelasan. Terima kasih.
Wassalam.

Balas
muhammad taib Says:
Agustus 23, 2009 pukul 4:04 am
berapa ukuran banyak nya air yang dianggap sah untuk mandi junub …mhn jawabannya

Balas
asa Says:
Agustus 29, 2009 pukul 5:52 am
1. apa yang membuat kita harus mandi junub?
2. apakah keluarnya cairan karena syahwat diwajibkan bagi kita untuk jugi mandi ?

Balas
Jaka Says:
September 6, 2009 pukul 3:32 pm
Ass
Bgini pak ustad saya pernah mandi wajib.
Stlah selesai.
Msh ad sisa sdikit air mani yg kluar .
Apkh saya harus mengulang mandi kembali

Balas
naway Says:
September 24, 2009 pukul 12:37 am
assalamualaikum…

alhamdulillah,nambah ilmu lagi dan sangat meyakinkan karena disertai dengan referensi haditsnya. ^_^
saya pnya pertanyaan:
1.saya pernah dengar, sewaktu megguyur tubuh itu, pertama tubuh bagian kanan dahulu, stlah itu bru tubuh bagian kiri. apakah ada penjelasan hadits yang sperti itu?
2.boleh tidak, ktika mencuci kemaluan menggunakan sabun?
3.jika setelah kita mandi junub dilanjutkan dengan mandi biasa, apakah mandi junub nya batal atau bagaimana?

terima ksih seblumnya, jika berkenan, mhon dikirimkan juga jwbanny ke e-mail saya..terima kasih

Balas
naway Says:
September 24, 2009 pukul 12:38 am
assalamualaikum…

alhamdulillah,nambah ilmu lagi dan sangat meyakinkan karena disertai dengan referensi haditsnya. ^_^
saya pnya pertanyaan:
1.saya pernah dengar, sewaktu megguyur tubuh itu, pertama tubuh bagian kanan dahulu, stlah itu bru tubuh bagian kiri. apakah ada penjelasan hadits yang sperti itu?
2.boleh tidak, ktika mencuci kemaluan menggunakan sabun?
3.jika setelah kita mandi junub dilanjutkan dengan mandi biasa, apakah mandi junub nya batal atau bagaimana?

terima ksih seblumnya, jika berkenan, mhon dikirimkan juga jwbanny ke e-mail saya..terima kasih

wassalamualaikum

Balas
ie_zha,. Says:
September 24, 2009 pukul 3:43 pm
alhamdullilah terima kasih atas smw ilmunya,..

sungguh berguna dn bermanfaat..

Balas
Diaz Says:
Oktober 27, 2009 pukul 6:55 am
Ass.. saat setelah mandi wajib kita mandi seperti biasa boleh atau tidak.? Tolong diJelaskan ya di email saya.! Wasalam…

Balas
odi Says:
November 18, 2009 pukul 5:21 am
assalamualaikum wr wb
bagaimana cara mandi wajib (menghilangkan hadast besar) bila ada salah satu anggota tubuh yang tidak boleh terkena air dikarenakan penyakit?
mohon cantumkan dalilnya,!!!! ke email saya ya. thx
wassalam.

Balas
buddz Says:
Januari 1, 2010 pukul 7:54 am
assalamualaikum wr wb
makin sering browsing makin sip, karena bisa nambah ilmu agamanya. terimakasih untuk smua ustad & ustadzah yang telah berkontribusi di blog ini.
aku mau download artikelnya bolehkan?
trims..
Wasalam

Balas
sirbram Says:
Januari 4, 2010 pukul 4:35 am
Silahkan, semoga bermanfaat bagi saya, anda dan kaum muslimin

Balas
thofan Says:
Januari 13, 2010 pukul 4:30 am
maaf,mau nanya…
kalau mandi junubnya dengan air hangat boleh gak?
kan kebetulan saya tinggal ditempat yang suhunya agak dingin…yaaaaa airnya gak hangat sih sebenere air hangat yang saya kasih air dingin hingga tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin…
Hukumnya gimana Ya???mohon bimbingannya

Balas
sirbram Says:
Januari 13, 2010 pukul 7:15 am
Semua air boleh kecuali yang terlarang spt kena najis yang sampai mempengaruhi bau,warna dan rasa air tsb. Menggunakan air hangat itu merupakan perkara mubah (boleh-boleh saja). Wallahu a`lam

Balas
fromzero Says:
Januari 30, 2010 pukul 3:33 pm
assalamualaikum…

kapan waktunya wajib untuk mandi junub?
maksudnya bolehkah mandi junub setelah beberapa jam kemudian setelah keluar mani? kalau boleh max berapa jam?

mhn infonya thx

Balas
sirbram Says:
Januari 31, 2010 pukul 12:19 pm
Tdk ada ketentuan khusus ttg itu, yg jelas sebelum masuk waktu shalat. Wallahu a`lam

Balas
irfan Says:
Februari 5, 2010 pukul 8:25 am
maaf saya mau nanya. apakah onani itu diharamkan dan apakah jikalau kita melakukannya kita dosa? apakah mandi junub diperbolehkan menggunakan shower?dan apabila kita mengguyur rambut yg kulitnya pus hrs kena menggunakan keran dan tidak menggunakan gayung apakah boleh?

terima kasih

Balas
sirbram Says:
Februari 8, 2010 pukul 2:11 am
Yang terpenting air itu harus merata keseluruh tubuh sampai kekulit kepala dan sela2 kuku sekalipun. Tidak amsalah apakah itu menggunakan gayung atau shower, krn itu hanya perkara teknis saja. Wallahu a`lam

Balas
irfan Says:
Februari 7, 2010 pukul 4:04 am
apakah benar klo kita mimpi basah trus di bantai ada rambut kita apakah harus ikutm dimandikan ?

Balas
sirbram Says:
Februari 8, 2010 pukul 1:34 am
Wallahu A`lam. Yang jelas seluruh bagian tubuh harus terkena air sampai sela2 kuku. Adapun rambut yang tercecer saya tidak pernah mendapatkan keterangannya. Silahkan bertanya lebih lanjut ke para ustadz yg mereka lebih mengetahui

Balas
ilham Says:
Februari 27, 2010 pukul 9:09 am
Assalamu’alaikum.
saya masih bingung soal menggosok tangan ke lantai atau dinding, apakah sebuah keharusan? bagaimana urutan utama mandi junub yang sah (tanpa tambahan cara2 yang sunnah)? Terimakasih

Balas
zan Says:
Maret 1, 2010 pukul 11:35 am
hm maap saya juga mau nanya masalah onani
apakah termasuk dosa besar??
apakah wajib juga mandi junub?
maap saya orang yg kurang mengerti masalah seperti ini
mohon bimbingannya
terima kasih

Balas
Tarmizi Says:
Maret 16, 2010 pukul 2:50 pm
mandi junub ada 2 cara sempurna seperti yang di contoh Nabi, dan yang krg sempurna ijtihadnya ulama dari dalil yang ada ayo mau ikut siapa?

Balas
fajar komariyah Says:
Juni 10, 2010 pukul 2:16 am
apakah mandi junub wudlunya tidak hanya sekali???^_^

Balas
Tasa Says:
Juli 12, 2010 pukul 8:02 am
Asalamualaikum wr.wb .
saya mau tanya,
1.Berapa kali kita wajib mNyiramkan air k tubuh kita saat mandi junub ?
2. Itu dari atas kpala saja atau dari bdan sblah knan dan kiri ?
Mhon jawaBan scepatnya .
Makasih.
Wasalamualaikum wr.Wb.

Balas
arik Says:
Juli 19, 2010 pukul 4:34 am
trimah ksh tas do’ax
mga Allah mengampuni q krn slh dlam mandi wajib

Balas
andri Says:
Juli 21, 2010 pukul 5:11 pm
Asalamualaikum wr.wb .

terimakasih atas postingan’a …
yang saya takutkan apabila ketika melakukan mandi junub hadas yang ada pada tubuh tidak sepenuh’a hilang
yang apabila demikian ibadah yang saya lakukan tidak syah karena saya dalam keadaan berhadas ..

Balas
rizki Says:
Juli 25, 2010 pukul 4:31 am
assalamtalaikum wr.wb
maaf saya menumpang nanya,
apakah ketika kita mandi junub apakah kita diwajibkan mengalirkan air ke lubang telinga?
sekian
wassalamualaikum wr.wb

Balas
rizki Says:
Juli 25, 2010 pukul 5:47 am
assalamualaikum wr.wb
saya mau tanya ketika kita mandi junub apakah kita harus mengalirkan air ke lubang telinga dan hidung?
dengan jari atau mengalirkannya dengan gayung ke lubang tersebut?
wassalamualaikum wr.wb

Balas
gunawan Says:
Juli 25, 2010 pukul 5:52 am
assalamualaikum wr.wb
saya mau bertanya ketika kita mandi junub apakah kita harus mengalirkan air ke lubang telinga dan hidung? apakah
dengan jari atau mengalirkannya dengan gayung ke lubang tersebut? saya mohon dengan sangat tolong dijawab pertnyaan ini
wassalamualaikum wr.wb

Balas
iwan Says:
Agustus 4, 2010 pukul 6:38 am
Mas..klo misalkan kita bertemu perempuan lalu jalan dengannya dan keluar setetes air pada kemaluan kita apakah itu disebut Air Mani, karena air mani kan jika keluar memancar sedangkan ini setetes? Soalnya ada yang mengatakan air yg keluar seperti itu adlh air Mazi…
Mohon Pencerahannya, bls ke email saya saja…

Balas
Chuie Says:
Agustus 11, 2010 pukul 12:40 pm
Sampai mana batasan2 utk membasuh semua lubang2 yg ada d’anggota2 badan. misalnya d’telinga, d’hidung, d’mulut… dll. terima kasih.

Balas
jefri Says:
Agustus 13, 2010 pukul 8:21 am
saya pgn tanya,,
seandainye air mani nya masih tersisah trus tumpah k lantai kamar mandi gmn bersihkannya???smntara kita sedang mandi junub,,kn takutnya air mani itu terinjak k kaki,dan sulit d bersihkan krn lengket,,seperti lem aibon,,

Balas
sirbram Says:
Agustus 16, 2010 pukul 3:15 pm
Tinggal disiram aja. Krn air mani tidaklah najis

Balas
doni Says:
Agustus 17, 2010 pukul 7:53 pm
asslm, ustadz, apakah onani haram. Apakah sering onani itu adalah dosa. Mhn pnjelasan ny. Trm. Asslm w.w

Balas

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment